Senin, 01 Desember 2025

Cermin Hati (Puisi)

 Teman, kau hadir bukan karena ikatan darah,

Namun karena kesamaan tawa dan arah.

Kau adalah cermin hati, yang jujur dan ramah,

Tempat berbagi kisah, tanpa perlu resah.

​Kita berjalan bersama, melewati hari-hari,

Di bawah terik mentari, atau di tengah badai.

Saling menopang saat langkah terasa letih,

Menjadi pelabuhan, saat jiwa mulai perih.

​Kau yang pertama tahu saat mata tersembunyi duka,

Membaca getar suara, di balik senyum yang pura-pura.

Tak perlu banyak kata, cukup tatapan mata,

Kau sudah mengerti, tanpa perlu kujelaskan semua.

​Di bangku sekolah, atau di sudut kedai kopi,

Kenangan kita terukir, abadi tak termakan sepi.

Walau jarak memisahkan, hati tetaplah dekat di sini,

Karena persahabatan sejati, tak mengenal batas dimensi.

​Terima kasih, wahai Teman, atas waktu yang kau beri,

Atas kesediaan mendengar, dan canda yang menghiasi.

Semoga ikatan ini kekal, hingga ujung hari,

Karena memilikimu adalah anugerah, yang tak ternilai harganya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sikus Abadi (Puisi)

 Kehidupan, kau panggung luas penuh misteri, Dimana setiap hati memainkan peran sendiri. Bermula dari tangis, penanda hadir di bumi, Berjala...